Luka belum pula kering setelah kematian Sang Ayah, kini Nadira harus merelakan kepergian ibunya. Segera, hari-harinya terasa sepi, namun ia harus bertahan. Ia harus merawat kakak satu-satunya yang memiliki kebutuhan khusus. Kemalangan demi kemalangan itu tak membuatnya berpangku tangan. Nadira tak sekalipun mengemin belas kasih orang lain, apalagi menyesali takdir hidupnya. Akan tetapi, jalan t…